Boleh dibilang, saya seorang pecandu film. Saya benar-benar ketagihan dengan gambar hidup ini. Semuanya bermula, dari Boroko, desa terpencil, tempat saya pertama kali menangis di dunia ini.
Kira-kira itu terjadi pada dekade 1970an. Suatu malam, kami sekeluarga datang ke lapangan sepakbola yang terletak di pusat desa. Malam itu, saya kira, seluruh warga kampung tumpah-ruah di lapangan besar itu. Kami semua, warga kampung, dari kakek-nenek hingga cucu-cucu, duduk beralas daun pisang menonton film hitam-putih dari layar tancap, yang diputar oleh sebuah perusahaan obat Bodrex. Saya ingat, malam itu, ada dua film yang diputar. Satu film koboi, satu film silat.
Sejak malam itu, saya telah jatuh hati pada hiburan ini. Tetapi, hiburan dari Bodrex, tak setiap tahun datang. Boroko, tetaplah desa tertutup: tak ada generator apalagi televisi. Radio menjadi sumber berita, cerita, dan lagu. Pada 1985, saya hijrah ke Kotamobagu, ibukota kabupaten Bolaang Mongondow. Di kota ini, (ketika jalan darat masih darurat) menghabiskan waktu sehari perjalanan mobil, saya menempuh pendidikan menengah atas.Di Kotamobagu-lah, saya kembali menikmati gambar hidup. Gratis pula. Kebetulan, paman saya dari pihak ibu, Paade Mat, adalah penjaga keamanan di salah satu bioskop terbesar di kota itu. Kalau tak salah ingat, Totabuan, nama bioskop itu. Dari Paade Mat, setiap minggu saya dapat dua karcis gratis. Free pass, istilahnya. Dan setiap dua hari, di bioskop Totabuan, pasti nongol film baru. Dari film India, Kungfu Cina, hingga film-film nasional.
Selama tiga tahun tinggal di Kotamobagu, hobi saya menonton film betul-betul terpuaskan. Aktor-aktor seperti Amitah Bachan, Ti Lung, Brigitte Lin Ching Shia, atau Roy Marten, adalah bintang-bintang yang saya hapal di luar kepala. Saya kira, masa-masa itu, masa keemasan industri perbioskopan. Dan masa dimana dua kali seminggu masuk bioskop, tinggal kenangan ketika saya harus angkat kaki dari Kotamobagu. Di Manado, tak ada lagi free pass. Kesibukan kuliah dan organisasi, memaksa saya untuk masuk bioskop pada saat-saat istimewa saja.
Lebih-lebih setelah tinggal di Jakarta, penghujung tahun 1990an. Masuk bioskop, sungguh telah menjadi sebuah kemewahan. Hobi saya pada gambar hidup ini baru kembali tersalurkan, ketika saya menjadi kontributor majalah Pantau. Suatu hari, saya menerima segepok uang sangat besar dari Pantau, sebagai honor atas dimuatnya tulisan saya. Dari uang itu, saya belanja tivi dan dvd player. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jakarta lagi booming dvd bajakan. Jalan Sabang dan WTC Kuningan, adalah dua tempat yang mesti saya kunjungi setiap minggunya.
Ketika kemudian kaki ini menginjak tanah New York, hobi menonton tak juga berkurang. Setiap akhir pekan, saya dan istri punya dua jadwal rutin. Toko buku dan bioskop. Jika film yang kami tonton sangat berkesan, kami akan mengoleksinya dalam bentuk dvd. Minggu ini tak ada film yang cukup menarik untuk ditonton. Tapi tak apa. Kami adalah salah satu pelanggan di dua buah toko penyewaan dvd. Pada Jumat kemarin, kami menyewa tiga film. Saya milih film laga Hollywood. “Behind Enemy Lines II Axis of Evil,” judulnya. Saya pilih film ini, karena sekuel pertamanya telah saya tonton. Sekalian pikir saya.
“Kamu benar-benar mau nonton film itu?” tanya istri saya ketika sedang berjalan ke arah kasir.
Setelah mandi dan makan malam, saya mulai memutar film itu. Istri saya tak ikut, dia tidak berselera dengan film begituan. Dia sedang menunggu gilirannya untuk memutar “Traffic.” Bagi saya, menonton film lebih banyak sebagai pelepas lelah. Tetapi, “Behind Enemy Lines II,” benar-benar membuat saya lelah. Ini film propaganda, saya tahu itu sejak tangan ini menyentuhnya pertama kali. Toh saya juga menikmati “Rambo” atau “The Taylor of Panama.”
“Film bodoh, konyol, bikin tambah capek.”
Istri saya hanya bisa tersenyum. Saya jadinya males nonton “Traffic,” padahal saya ingin menyaksikan aksi dari Benicio del Toro.
Hari sabtu, istri saya mengajak cuci mata di toko buku Borders, yang terletak di 34 Street, salah satu dari area yang disebut sebagai jantungnya kota Manhattan. Baru sekitar enam bulan Borders nongol di sana.
“Aku mau beli ‘American History X’ dan ‘The Illusionist.”
Istri saya ingin mengoleksi dan melihat lagi akting Edward Norton. Di rak kecil kami, si Norton ini udah ada beberapa biji.
“Yuk nonton ‘American History X.’ Aku jamin kamu senang deh. “
Benar juga. Kesebelan yang sangat pada “Behind Enemy Lines II,” mencair. Edward Norton dan jalinan cerita yang disuguhkannya, membuat saya terpaku. Saya baru kembali tertawa lebar, ketika mendadak ada suara “Kembali ke Laptop.”
Labels: Personal
Ketika musim dingin mulai benar-benar nyata di New York, sekira dua minggu lalu, saya dan istri terpaksa harus beli sepatu anti dingin. Di NY, sepatu jenis ini tidak bisa dikataka murah. Minimal harganya $60.
Lagi asyik-asyiknya jalan di megastore TARGET, kita kemudian masuk ke sebuah toko yang khusus jual sepatu. Skechers, nama toko itu. Ternyata, Skechers adalah juga nama merek sepatu, dengan bintang iklannya pesohor Ashley Simpson. Skechers kebetulan lagi musim harga miring, kalau beli dua harganya dipotong separuh. Ya sudah, jadilah Skechers berpindah tangan
Saya kemudian iseng-iseng mencaritahu ini sepatu produk mana sih? Periksa punya periksa, ini rupanya produksi Cina. Luar biasa, karena produk Cina saat ini tengah membanjiri pasar AS, hingga membuat para elite di Washington kebakaran jenggot. Bagi mereka, banjir produk Cina ini menjadi ancaman baru setelah terorisme Islam dan populisme Amerika Latin.
Soal sepatu produk Cina ini, saya ceritakan pada istri saya. Dia pun kaget, dia bilang kapan ya Indonesia dikenal di AS bukan dari bencana alamnya? Kebetulan berita-berita media di AS saat itu, lagi menyiarkan bencana banjir yang melanda Jakarta. Tiba-tiba istri saya mengusulkan,
“Kenapa kamu tidak coba belajar soal Cina?”
“Susah. Waktu sudah tidak memadai. Soal Amerika Latin saja, belum seberapa belajarnya.”
“Tapi, kalo kamu bisa belajar soal Cina maka itu akan menjadi kombinasi yang baik dengan apa yang kamu pelajari soal Amerika Latin saat ini.”
Saya pikir benar juga. Belajar soal Cina seperti belajar tentang bagaimana rejim Orba mulai mengintegrasikan diri ke dalam sistem kapitalisme global, diakhir dekade 1960an. Ada optimisme dan harapan yang berlebihan. Sementara belajar Amerika Latin, kita semacam melihat proyeksi tentang masa depan Indonesia dan juga, Cina.
Dalam kehidupan sehari-hari pun di NY sini, jika kita menguasai atau paling tidak bisa mengerti bahasa Mandarin dan Spanyol, selain bahasa Ingggris tentunya, bisa dipastikan kita tak akan kesusahan bayar apartemen.
Kembali soal belajar tentang Cina, istri saya rupanya tak berhenti provokasi. Setiap minggu pasti ia belikan saya satu buku tentang Cina. Kemarin (Jumat), ia menghadiahi saya buku yang dieditori Chaohua Wang, “One China, Many Paths,” yang diterbitkan oleh Verso, London, pada 2003. Ini buku yang sangat menarik, karena merekam soal perkembangan dan perdebatan intelektual di Cina, dari masa dekade 1960an hingga jalan baru yang ditempuh Deng.
Salah satu artikel yang menarik dalam buku ini, adalah wawancara dengan Wang Hui. Hui adalah veteran aktivis Tiananmen Massacre pada 1989, dan pemimpin redaksi jurnal terkemuka di Beijing, Dushu (Readings). Selain itu, Hui yang adalah profesor Humanities di Tsinghua University, adalah orang yang dianggap sebagai pelopor gerakan New Left di Cina. Yang menarik dari wawancara ini adalah cerita Hui tentang Dushu.
Diterbitkan pertama kali pada April 1979, Dushu dengan cepat menjadi salah satu ikon para intelektual di Cina. Sirkulasinya memang sangat kecil berbanding milyaran jumlah penduduk Cina, hanya berbilang di bawah 50 ribu eksemplar. Jurnal ini membahas tema-tema seperti filsafat Barat, teori sosial, dan pemikiran ekonomi. Nama-nama seperti Nietzsche, Heidegger, Cassirerr, Marcuse, Sartre, dan Freud, ramai dibincangkan. Tetapi, menariknya, Dushu tidak membahas tema seperti teori modernisasi atau ekonomi mazhab neo-klasik.
Saya kira, Dushu ini mirip Prisma yang pernah berjaya pada dekade ‘70an dan 80an. Tapi, seingat saya, Prisma sangat sering membahas soal teori modernisasi. Nah, masalah mulai datang pada Dushu, ketika pasar nasional mulai dibuka gencar, dan konsumtivisme mulai jadi gaya hidup. Jurnal kayak Dushu, dipaksa bersaing dengan majalah-majalah model Cosmopolitan, yang ringan dan renyah bacaannya dan enak dipandang. Trend ini tak mampu diabaikan Dushu. Para editornya, terutama pemimpin redaksi Shen Changwen, kemudian memutuskan untuk mengubah kebijakan Dushu, dengan memuat artikel-artikel yang lebih ringan bobot akademiknya. Hasilnya, sirkulasi Dushu meningkat antara 50 ribu hingga lebih dari 80 ribu eksemplar per bulannya. Perubahan kebijakan ini juga, seperti dikatakan Hui, mencerminkan iklim intelektual di Cina, Beijing khususnya, yang gagal memahami gerak perkembangan intelektual dan masyarakat Cina pasca Mao.
Pada 1996, ketika Hui ditawarkan sebagai pemred, ia membawa pulang Dushu ke khittahnya. Di bawah Hui, Dushu meluncurkan serial perdebatan mengenai masyarakat desa, etika, Asia, perang dan revolusi, krisis keuangan, liberalisme, hukum dan demokrasi, nasionalisme, dan feminisme. Reorientasi ini, yang kembali menempatkan Dushu sebagai lahan curah pemikiran, rupanya mendapatkan sambutan atraktif dari kalangan intelektual, yang gelisah dengan merebaknya konsumerisme, kesenjangan sosial, dan ketidakpastian. Dari segi oplah, Dushu meningkat hingga menembus angka 100 ribu dan 120 ribu.
Saya pun membayangkan, suatu ketika di Indonesia, hadir jurnal seperti Dushu. Ia memfasilitasi kegelisahan para intelektual, menjadi lahan perdebatan pemikiran, dan sumber inspirasi teoritik. Ia betul-betul menjadi lokomotif yang menarik gerbong kehidupan intelektual progresif Indonesia.
Di NY sini, saya sedikit beruntung bisa berlangganan cukup banyak jurnal kiri. Dari New Left Review, Monthly Review, Science and Society, historical materialism, hingga Socialist Register. Tapi, saya merasakan ada yang kurang. Jurnal-jurnal ini, tidak menggambarkan semangat para intelektual di negara dunia ketiga (meminjam kategorisasi Mao). Ia lebih merefleksikan cara pandang kehidupan intelektual negara kapitalis maju.
Labels: Personal
Satu hari ketika lagi minum teh di kedai Utan Kayu, saya didekati seorang lelaki. Ia mengajak bicara, gayanya santai dan santun. "Bung, apa mau menulis yang baik?"
"Tentu saja."
"Ok, kalau sudah tiba waktunya Bung akan saya beritahu," ujarnya.
Pertemuan itu menggerakkan saya mencari tahu, siapa gerangan lelaki itu. Saya tak juga mengetahui siapa itu Andreas Harsono. Sebagai aktivis kampung dari Manado, nama ini tak pernah saya dengar. Mula pertama sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam cabang Manado, nama aktivis yang beredar di telinga saya adalah Ferry Mursyidan Baldan, Syaiful Bahri Ruray, atau Bursah Zarnubi. Ketika mulai kenal gerakan masyarakat sipil, nama aktivis yang saya kenal adalah Asmara Nababan, Hilmar Farid, Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, atau Andi Arief.
Waktu berlalu. Hingga satu hari akhir tahun 2000, lelaki ini minta saya jadi kontributor majalah Pantau. Saya pun bergirang ria. Menulis nafas hidup saya. Kebersamaan di Pantau membuat saya mengenal secara dekat, bahkan sangat dekat dengannya. Saya lebih suka memanggilnya dengan “Bung AH.” Teman saya, Agus Sopian, memanggilnya “Mas Andre.” Linda Christanty memanggilnya “Mas Andreas.”
Tugas pertama saya menulis sosok Suryopratomo, pemimpin redaksi Kompas, yang baru menggantikan Jakob Utama. Saya pun wawancara. Dalam percakapan-percakapan santai dengan Bung AH, maupun dalam rapat Pantau, saya diajarkan bagaimana wawancara yang baik.
"Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan terbuka. Ia memberi kesempatan pada nara sumber untuk menjawab sebanyak-banyaknya. Sebisa mungkin jangan menggunakan pertanyaan tertutup, yang hanya melahirkan jawaban, 'ya' atau 'tidak.’" Ini salah satu pelajaran penting saya.
Ketika saat menulis tiba, saya mengerahkan segala kemampuan terbaik saya. Saya menyerahkan laporan itu pada Bung AH. Saya kira ia senang.
"Bung, itu kutipan tentang Antonio Gramsci, sebaiknya dihilangkan, Kutipan itu tidak relevan dengan batang tubuh tulisan. Kalau perlu, jangan terlalu banyak kutipan, menulislah berdasarkan hasil kerja Anda sendiri."
Saya agak terhenyak. Saya pikir dengan mengutip pemikir kelahiran Italia, yang terkenal dengan teori Hegemoni itu, akan membuat laporan saya makin berkilat. Laporan itu dikembalikan dengan penuh corat-coret. Praktis, saya harus mengubah total laporan saya, kembali melakukan wawancara, menggali data baru.
Itulah pengalaman pertama menjadi kontributor Pantau. Makin hari, saya makin tenggelam dalam kenikmatan sebagai wartawan. Saya tak pernah memikirkan urusan lain, selain mencari ide tentang rencana penulisan laporan selanjutnya. Saya terkejut ketika menerima honor ratusan ribu rupiah.
Kemudian saya ditugaskan membuat laporan tentang harian Kompas dan lantas majalah Tempo. Ketika menulis tentang Tempo, Bung AH mengajak saya berbicara secara pribadi. "Begini Bung, Anda telah menulis tentang Kompas, dan banyak mendapatkan sorotan.
Mereka tahu Pantau dekat dengan Tempo. Tempo dan Kompas selalu bersaing. Yang kedua, Anda dekat dengan GM (Goenawan Mohamad), apakah Anda bisa independen ketika menulis soal Tempo? Ingat lho, integritas Anda dipertaruhkan."
"Bung, saya menulis tentang Kompas apa adanya. Saya tak punya pretensi apa-apa. Soal kedekatan dengan GM, kita lihat aja nanti. Saya memang dekat dengannya tapi, Bung jauh lebih dekat lagi."
GM orang yang memiliki suara dominan dalam internal Tempo maupun Pantau. Bung AH menganggap GM mentornya.
Saya pun mulai mempersiapkan diri. Saya mencoba menelusuri dokumen-dokumen yang berkaitan dengan majalah ini. Setelah cukup, saya pun mulai mewawancara. Pertama kali adalah GM di lantai dua Teater Utan Kayu.
Wawancara berjalan santai. GM orang terbuka, ia juga tak pernah mengatakan bahwa ada bagian dari wawancaranya yang tak boleh dikutip. Selanjutnya, saya mewawancari pihak lain, termasuk Fikri Jufri. Sayang, ketika itu Fikri Jufri menolak permintaan wawancara saya. "Cari saja yang lain," ujarnya.
Ketika proses penggalian data cukup, saya mulai menulis. Dalam proses penulisan ini, energi saya rasanya jadi berlipat-lipat. Ruang redaksi Pantau, yang jadi rumah kedua saya, berpindah jadi rumah pertama. Setiap hari, saya tidur di ruangan itu, membaca dan menulis. Malam jadi siang, siang jadi malam. Kadang-kadang, saya ditemani Eriyanto, sesama kontributor Pantau, yang biasa mentraktir saya makan nasi uduk di bantaran kali Utan Kayu pukul tiga dini hari.
Dua minggu berlalu, saat laporan mencapai 75 persen, laporan berbelas-belas halaman itu hilang dari komputer saya. Saya coba tenang, cari sana cari sini. Akhirnya saya betul-betul panik. Saya seperti orang gila. Kok bisa itu laporan menghilang?
Eri Sutrisno, salah satu rekan, bilang, “Jangan-jangan ada yang sabotase.” Saya memutuskan pulang ke tempat kost. Mandi, tidur siang, makan siang di kedai. Dua hari saya tak menyentuh apapun, selain makan, tidur, dan mandi.
Pada hari ketiga, saya memutuskan menulis ulang. Entah kenapa, kali ini saya menulis dengan sangat lancar, tak peduli pada waktu. Saya ingat, saya tak tidur dan tak mandi dua hari lamanya, untuk mengejar batas waktu penulisan itu.
"Bung, sudah pulang sana dan mandi dulu. Bung sudah bau," kata Bung AH.
Saya tetap melanjutkan menulis. Sudah kadung, sebentar lagi rampung tulisannya. Dan ketika tulisan itu selesai, saya baru sadar kalau panjangnya mendekati 40 halaman. Begitu laporan itu dimuat, reaksinya besar sekali. Bung AH menerima sekitar 70 komentar. Ada yang memuji, ada yang memaki. “Isi kebun binatang ditumpahkan semua,” kata Bung AH. Maklum saja, media di Jakarta tak pernah diliput dengan standar baku.
Saya terkejut setengah mati ketika menerima honor enam juta rupiah. Hampir 10 tahun tinggal di Jakarta, itulah kali pertama saya memegang uang sebanyak itu. Saya memutuskan membeli televisi dan sepeda motor bebek apkiran. Itu dua barang yang ingin miliki: televisi untuk nonton sepakbola dan sepeda motor untuk irit transportasi.
Banyak orang tak suka pada Bung AH. Dia dibilang: kaku, arogan, Cina brengsek dan sebagainya. Tapi, Bung AH yang saya kenal, jauh dari kesan itu. Ia memang kaku, terutama pada prinsip-prinsip jurnalisme yang dianggapnya baik. Misalnya, ia tak bisa menerima penggunaan sumber anonim, pengabaian terhadap pagar api, kerja rangkap wartawan. Tapi, selebihnya, ia redaktur yang sabar, peduli keadaan hidup kontributor. Ia tak hanya bicara soal menulis yang baik, soal perkembangan kerja tapi, juga soal-soal pribadi para kontributor yang tak punya uang, yang belum makan seharian, yang baru putus sama pacarnya, atau yang sedang naksir seseorang.
Itu menjadikan suasana kerja Pantau menggembirakan. Sebagai kontributor, saya bekerja dengan senang hati, dengan perasaan riang. Saya tak merasa berjarak dengan para editor. Mereka juga tak memosisikan dirinya sebagai atasan. Dalam rapat-rapat redaksi yang saya ikuti, setelah mengecek soal tenggat waktu dan rencana penulisan, selebihnya adalah dialog penuh canda tawa.
Ketika menyunting naskah, misalnya, para editor ini sering bertanya apakah saya setuju dengan hasil suntingan itu. Metode kerja ini sangat efektif, karena para kontributor memiliki gaya menulis beda-beda. Dan itulah salah satu kelebihan Pantau. Setiap edisi punya beragam warna. Pembaca punya penulis favoritnya masing-masing. Ada yang menunggu-nunggu, kapan tulisan Linda Christanty macam Hikayat Si Kebo, kembali muncul. Ada yang merindukan analisis medianya Eriyanto.
Ada persahabatan yang bersemangat, yang bersaing dengan riang gembira. Tak peduli apakah itu kontributor yang sudah makan asam garam kehidupan, misalnya Budiman S. Hartoyo, atau Muhlis Suhaeri, yang belum kelar kuliah. Saya suka ketawa sendiri, jika ingat “Pak Budiman” kesel kalau ditagih soal bon oleh bagian keuangan. “Tiket tol itu khan gampang sekali rusak dan aku khan udah nggak inget lagi.”
Ada juga gesekan kecil tapi, lebih merupakan bumbu kerja. Misalnya, kalau Linda Christanty sudah "kumat," maka ia akan bernyanyi-nyanyi atau berbicara sendiri. Atau Agus Sopian, begitu tiba dari Bandung, langsung tergeletak di lantai, merampok kasur kecil milik bersama Eriyanto dan saya. Ngorok pula.
Disitulah peran utama Bung AH. Dia membuat majalah terbit setiap bulan dengan suasana riang. Tanpa redaktur seperti dia, saya kira tak mungkin ada majalah dengan konsep hubungan kerja yang sangat longgar, yang tidak mengenal konsep atasan-bawahan, yang bisa hidup lebih dari dua tahun dengan kualitas tinggi. Seberapa besar pun uang yang digelontorkan.
Ketika saya mendengar kabar bahwa Institut Studi Arus Informasi menutup majalah itu, saya kehilangan semangat. Ketiadaan uang menjadi pemicu utamanya. Pantau adalah proyek rugi, dan kerugian itu bisa menghancurkan segala yang telah dibangun. Saya bisa memahami alasan itu. Itulah hukum dasar kapitalisme, logic of profit sebagai dasar kehidupan. Tapi, saya katakan pada Bung AH, itu cara berpikir yang sangat sempit, yang tidak strategis, jalan para pedagang, bukan jalan seorang pejuang.
Penutupan itu membuat saya patah arang. Pantau adalah tempat pertama saya di luar gerakan politik. Pertemuan pertama yang membuat saya jatuh cinta. Saya kehilangan suasana kerja intim dan gembira. Pantau seperti jadi racun dalam kehidupan saya. Ketika kemudian saya kerja di tempat lain, saya selalu membandingkannya dengan suasana kerja di Pantau. Sangat berbeda dan itu sangat mengganggu saya. Saya jadi romantis dan naif. Ketika ada rencana mendirikan kembali majalah Pantau, semangat saya pun telah terkikis habis.
Coen Husain Pontoh asal Bolaang Mongondow, tinggal di New York, masa Soeharto dipenjara 2.5 tahun sebagai tahanan politik, menulis buku Malapetaka Demokrasi Pasar (2005), Gerakan Massa Menghadang Imperialisme Global (2005), Menentang Mitos Tentara Rakyat (2004), Akhir Globalisasi (2003) dan Utang Yang Memiskinkan (2002).
Tulisan ini dimuat dalam buku pernikahan Andreas Harsono dan Sapariah Saturi.
Labels: Personal
Di kampung saya, desa Boroko, kecamatan Kaidipang, kabupaten Bolaang Mongondow, provinsi Sulawesi Utara (ini kebiasaan kalau nulis alamat surat jaman sekolah dulu), bulan puasa adalah sebenar-benarnya bulan penuh rahmat.
Bagi kami yang masih kanak-kanak, sekira di bawah sepuluh tahun, bulan puasa juga bulan bertabur rejeki. Ibu saya dan nenek saya tercinta, pada bulan puasa ini, setiap hari pasti bikin kue, kolak, atau wajik dari ketan item yang enaknya luuuaaar biasa. Biasanya, ketika lagi masak-memasak itu, saya bersama adik saya pasti menemani keduanya di dapur. Sedikit-sedikit, tangan ini nyolong barang-barang mentah yang ada di sekitar: gula merah (gula jawa atau gula aren), atau susu cap nona.
Saat berbuka puasa, adalah saat paling ditunggu-tunggu. Kami sekeluarga, duduk satu meja. Ayah saya duduknya pasti di kepala meja, dia punya gelas khusus, lebih tepatnya mangkok, hadiah dari istrinya yaitu, ibu saya, hehehehe. Cepat-cepat saya dan adik saya, duduk di meja makan, tujuannya apalagi kalau bukan ngutil. Dan biasanya, kakak perempuan saya yang jadi Polwan.
Buka puasa selalu dimulai dengan proses pembacaan doa. Walaupun duduk di kepala meja, tugas membaca doa dilakukan ibu saya. Sambil memejamkan mata dengan teduh dan hikmat, mulutnya merapal: bismillahhirrahmannirrahim, allahummalakasumtu….. Begitu doa selesai dibaca, saya dan adik saya adalah pejuang garis depan dalam membantai makanan di atas meja. Tentu saja tak bermasalah, karena paling banyak kami hanya makan sedikit.
Ibu saya punya aturan, buka puasa sebaiknya makan yang manis-manis: teh atau kopi, lantas sesendok-dua kolak. Setelah itu cepat-cepat sholat maghrib yang dikomandani bapak saya. Kita baru diperkenankan makan sepuasnya setelah itu, hingga menjelang sholat tarawih.
Sholat tarawih adalah momen kegembiraan yang lain. Kami, anak-anak kecil di kampung nan sunyi itu, menjadikan sholat tarawih sebagai tempat beribadah sekaligus bermain. Biasanya saya sholat di masjid Kuala (Kuala sebenarnya nama sebuah desa, dan hanya ada satu masjid di situ), karena lebih dekat jaraknya dari rumah. Lagi-lagi, bulan puasa memang betul-betul bulan yang meriah, ibarat pasar malam. Di sekitar masjid yang diterangi dua tiga lampu lampu petromax, banyak sekali orang berjualan kacang goreng, kacang rebus, kue-kue basah, pisang, gula-gula (permen), atau rokok. Nah, setiap ke masjid, pasti kami minta uang seperak-dua perak, yang pada saat itu masih bernilai. Satu bungkus kacang goreng seukuran telapak tangan, harganya dua perak.
Di masjid, menjelang sholat isya, tak ada yang istimewa. Begitu mau sholat tarawih, baru momen keceriaan itu muncul. Oh ya, tarawih di masjid ada dua babak. Babak pertama adalah sholat 21 rakaat, setelah itu disusul yang delapat rakaat. Nah, kami pasti ikut yang 21 itu. Ada dua keistimewaan sholat 21 ini, pertama imamnya ketika membaca surat-surat cepatnya minta ampun. Seperti keretalah, tak ada jeda sama sekali. Kebiasaan membaca cepat ini, terutama imam keturunan Arab itu, tak berubah hingga ia meninggal dunia. Momen kedua, adalah saat mengucapkan Amin tiba. Wah, kami berlomba-lomba untuk membaca paling keras, tepatnya berteriak: Aaaamiiiinnn. Asyiknya, tak ada yang marah, lagi khusyuk sih.
Setelah tharawih, permainan lain sudah menunggu: petasan bambu, kami menyebutnya bermain petas-petasan. Sepotong bambu sepanjang dua meter, dengan sebotol minyak tanah, diteman lampu minyak kecil, sungguh menggembirakan. Karena penerangan yang kurang, baru besoknya kelihatan kalau bulu mata sudah banyak berkurang.
Demikianlah kegembiraan itu terus berlanjut hingga menjelang lebaran. Hari raya, begitulah kami menyebutnya. Dua minggu sebelum hari raya, nenek, ibu, dan kakak perempuan saya sudah sibuk di dapur membikin segala macam ragam kue-kue. Lagi-lagi, saya bersama adik saya jadi seksi bikin sibuk, hehehe. Sementara ayah dan kakak lelaki tertua saya, mulai membeli cat dari batu kapur. Halaman rumah mulai dibersihkan, rumpur-rumput kecil mulai dicangkul, demikian juga got-got di depan rumah. Kami berlomba dengan para tetangga untuk mendandani dan membersihkan rumah masing-masing. Seminggu sebelum lebaran, setiap malam kami mulai memajang lampu-lampu botol minyak kecil-kecil di rumah sebagai penerang. Kata ayah saya, ini kewajiban agama.
Tidak itu saja, momen lebaran berarti musim pergantian baju dan sepatu. Ibu saya mulai belanja kain ke pasar, lalu pergi ke tukang jahit. Kebiasaan ibu saya membelikan baju ini, bahkan berlanjut hingga saya kuliah di Manado. Kadang yang dibeli tak sesuai mode, tapi saya sungguh senang memakainya. Kasih ibu sepanjang masa memang, terima kasih mami (teringat Mami, air mata ini meleleh tanpa bisa ditahan).
Begitu lebaran tiba, sholat ied selesai, semua kami pasti tampil dengan baju baru, sepatu baru, rambut baru. Pokoknya semua serba baru. Di masjid, seusai sholat kami segera menunggu-nunggu kebiasaan orang kaya di kampung, untuk melemparkan uang ke tengah-tengah kerumunan anak-anak. Itulah babak pertama perayaan lebaran. Setelah itu dengan berombongan, kami memasuki satu rumah ke rumah lainnya. Biasanya yang pertama kali kami kunjungi adalah keluarga terdekat, setelah itu tetangga sebelah-menyebelah. Salam Alaikum. Minal Aidin Wal Faidzin. Setelah itu duduk manis di ruang tamu, lirik sana lirik sini, menunggu dengan harap-harap cemas hidangan teh atau kopi atau sirup bersama kue-kuenya.
Ya, di kampung saya, lebaran memang betul-betul sebuah pesta kemenangan. Rumah saya baru tutup setelah lewat pukul 12 tengah malam. Apalagi kebiasaan di kampung, berlebaran itu beramai-ramai. Karena ibu saya adalah seorang guru sekolah menengah pertama, maka tamu kami umumnya adalah anak sekolah dan mereka yang sekolah lanjut di kota dan lagi berlibur.
Sesekali, kami merayakan lebaran di rumah oma saya di Gentuma, sebuah desa di pesisir pantai, yang kini merupakan bagian dari provinsi Gorontalo. Di desa ini, lebaran tak seramai di kampung saya. Keluarga besar oma semuanya beragama Kristen Protestan.
Setelah saya lulus SMP dan pindah ke kota untuk sekolah lanjutan atas dan kuliah, kegembiraan merayakan lebaran pelan-pelan menyusut. Tak ada pesta, tak ada kesembiraan. Habis sholat di lapangan terbuka ya sudah, pulang ke kos-kosan. Lebih-lebih ketika di tinggal Jakarta. Kini, di New York, AS, tiba-tiba saya merindukan suasana bulan ramadhan dan lebaran di kampung saya: beribadah dengan penuh kegembiraan.
Mami, papi, kak Is, Ci’Nen, adik U, selamat hari raya iedul Fitri, minal aidin wa faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Labels: Personal
Sejak dua minggu lalu, saya punya hobi baru: Bermain Tenis. Jangan banyangkan, saya bermain di stadion Flushing Meadows, yang hanya berjarak 15 menit, dari tempat saya tinggal jika menggunakan kereta api bawah tanah (subway). Flushing Meadows, terletak di daerah Flushing, adalah tempat dimana setiap tahunnya diselenggarakan kejuaraan tenis Amerika Terbuka.
Ide bermain tenis ini datang dari istri saya. Ketika itu, kami berdua hendak berbelanja ke supermarket Target. Kami berencana membeli rak buku dan topi pelindung panas. Buku sudah berserakan di mana-mana, sementara istri saya paling tak suka dengan yang namanya ketidakteraturan. Pada saat yang sama, New York sedang dilanda suhu panas tak terkira, melampaui 100 derajat Fahrenheit.
Ketika melewati taman, di daerah Elmhurst, tiba-tiba istri saya ketiban ide. “Mas, kenapa kamu nggak coba bermain tenis?” Yah, di taman itu, memang tersedia areal untuk bermain tenis, walaupun bukan lapangan tenis. Maksudnya, ada lapangan tempat orang bisa bermain tenis, dan di tengah lapangan itu, dibangun dinding beton yang cukup tinggi, yang berfungsi sebagai lawan. Jadi, kalau kita memukul bola, maka pantulannya akan sekuat bola yang kita pukul.
“Wah, seumur-umur aku nggak pernah bermain tenis.”
Permainan tenis memang sangat asing buat saya. Beda dengan tenis meja. Waktu masih di tingkat sekolah dasar, saya adalah juara kecamatan dalam olah raga ini, yang kemudian diutus untuk berlaga di tingkat kabupaten. Sayangnya kalah. Ketika menjadi penghuni penjara Kalisosok, Sidoarjo, Surabaya, antara tahun 1997-98, saya boleh bersombong ria, karena tak mendapat lawan tanding yang sepadan.
Olah raga lain yang akrab, bahkan menjadi keahlian lain saya, adalah sepak takraw. Ini permainan yang dilakukan oleh enam orang, sambil menendang bola yang terbuat dari rotan. Masing-masing tim terdiri dari tiga orang. Posisi saya dalam permainan ini, semacam striker dalam cabang sepakbola. Saya paling senang melakukan smash sambil berjumpalitan di udara.
Selain itu, bulutangkis dan terutama sepakbola, adalah kegemaran saya yang lain. Sejak mengenal Maradona, di usia tujuh tahun, saya selalu berminat terhadap olah raga terpopuler ini. Bersama sepakbola, badan ini sudah tak terhitung cacatnya: jatuh terinjak, terkilir, baku pukul di lapangan, hingga patah tulang kaki dan tangan.
“Gak masalah,” ujar istriku setengah memaksa. “Khan cuma untuk olahraga ringan,” tambahnya. “Nanti, sampai di Target, kita beli raket tenis ama bolanya, deh.”
Kalau istri sudah bicara, apalagi yang bisa menjadi argumentasi balik? Maka, ketika sampai di Target, malah yang dibeli bukannya rak buku, tapi raket dan bola tenis. Sejak itu, setiap akhir pekan, saya bersama istri bermain tenis bersama.
Bermain tenis, ternyata bukan permainan yang mudah. Bahkan sangat menguras tenaga. Semula, ketika memegang raket pertama kalinya, saya coba membayangkan diri sebagai Michael Chang, jawara tenis Amerika keturunan Cina. Setelah satu dua kali memukul bola dan berlari ke sana ke mari, saya akhirnya menghapus bayangan Chang dari pikiran saya.
“Makanya aku tak mau menganggap diriku sebagai Maria Sarapova,” ujar istriku sambil tertawa ngeledek.
Karena permainan ini dilakukan di ruang publik, maka rumus yang berlaku adalah “siapa cepat dia dapat.” Jika Anda telat datang di lapangan, maka harus siap-siap untuk sabar menunggu. Tak ada aturan bahwa setiap orang hanya boleh bermain satu jam atau dua jam. Saya, misalnya, baru berhenti kalau benar-benar napas sudah sampai di tenggorokan, dan kaki sudah tidak bisa diajak berlari.
Hari ini, saya datang ke lapangan pukul 5 pagi.
Labels: Personal